Jaga mulut kamu!—-

Tidakkah dia pernah tahu ada hadis dari Nabi: “Barang siapa yang membuka aib saudaranya,
Allah akan membuka aibnya. Barangsiapa yang dibukakan aibnya oleh Allah, Allah akan mempermalukannya,
bahkan di tengah keluarganya.”

Bayangkan jika Allah membuka seluruh aib kita. Masih beranikah kita menghadapi manusia, suami kita,
mertua kita, dan seterusnya.

Tidakkah dia pernah membaca hadis nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w.,
sabdanya: “Tiada seseorang hamba pun yang menutupi cela seseorang hamba yang lainnya di dunia,
melainkan ia akan ditutupi celanya oleh Allah pada hari kiamat.”

Disamping itu…tiada untungnya org yg suka menyebarkan aib org lain…

Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallah ‘anhu, ia berkata bahawa Rasulullah SAW telah
bersabda: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.
” (HR At-Tirmidzi dan periwayat lainnya).

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Hadis ini merupakan pondasi yang sangat agung di antara
pondasi-fondasi adab.” Dia mengatakan pula tentang pengertian hadits ini: “Sesungguhnya barangsiapa yang
baik keislamannya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting baginya; ucapan dan perbuatannya
terbatas dalam hal yang penting baginya.”

Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan pula: “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan
apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna,

sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Tidaklah seorang mengucapkan satu ucapan kecuali padanya ada malaikat
yang mengawasi dan mencatat.” (Qaaf: 18).

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al-Adzkaar: “Ketahuilah, sesungguhnya setiap mukallaf
(muslim yang dewasa dan berakal hingga terbebani hukum syari’at, red) diharuskan menjaga lisannya dari segala
ucapan kecuali yang mengandung maslahat. Apabila sama maslahatnya, baik ia berbicara ataupun diam, maka sunnah
untuk menahannya, karena kata-kata yang mubah dapat mengakibatkan suatu hal yang akhirnya menjurus kepada yang
haram atau makruh, dan ini sering terjadi secara umum. Padahal mencari keselamatan itu tidak ada bandingannya.
” Artinya mencari keselamatan itu sangat penting sekali.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Menjaga lisan adalah agar jangan sampai seseorang mengucapkan
kata-kata yang sia-sia. Apabila ia berkata hendaklah berkata yang diharapkan terdapat kebaikan padanya dan manfaat
bagi dien (agama)nya. Apabila ia akan berbicara hendaklah ia pikirkan, apakah dalam ucapan yang akan dikeluarkan
terdapat manfaat dan kebaikan atau tidak? Apabila tidak bermanfaat hendaklah ia diam, dan apabila bermanfaat
hendaklah ia pikirkan lagi, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya ia tidak menyia-nyiakan
waktunya dengan yang pertama (tidak bermanfaat) itu.

Betapa banyak orang yang demikian, meninggalkan kekejian dan kedzaliman, tetapi lisannya diumbar ke sana ke mari
menodai kehormatan orang-orang yang hidup dan yang telah meninggal dunia, tanpa mempedulikan akibat dari
kata-kata yang diucapkannya..

Ancaman yang disebutkan itu berlandaskan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; “Sesungguhnya seorang hamba
mengucapkan kata-kata, ia tidak memikirkan (apakah baik ataukah buruk) di dalamnya maka ia tergelincir disebabkan
kata-kata itu ke dalam api neraka sejauh antara timur dan barat.” (Muttafaq ‘alaih).

Demikian pula dg menyebarkan aib org lain. Tidakkah lebih baik berbuat yg bermanfaat bagi ummat, aktif dalam beramal,
memiliki perhatian penuh terhadap kebaikan bagi ummat dan dirinya.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua….

 

Allah in stone in Rohtas Fort, District Jhelum...
Image via Wikipedia
Iklan